penyejuk hati

Sunday, April 30, 2006

Back To Indonesia

Akhirnya tiba juga waktunya, kami harus pulang ke Indo. Fathi dan Nurul sudah menunggu-nunggu karena ummi dan abi sudah membayang2kan perjalanan ini. Dari Groningen kami diantar oleh om dan tante, banyak sekali om dan tantenya bahkan ada juga yang mengantar sampai ke Schipol. Kami berangkat dari Groningen hari jumat sore dan menginap dirumah keluarga om Gunaryadi di Denhaag. Sampi di Denhaag sudah malam sekali karena harus menyimpan tas dulu di bandara jadimya tidak bisa main dulu sama Jasmin dan Hannah.

Paginya juga kami harus segera meninggalkan Den haag menuju Schipool karena pesawat akan berangkat jam 10. Bagi Fathi naik pesawat bukanlah hal yg baru tidak bagi Nurul. Nurul duduk dekat jendela, Fathi di tengah. Awalnya Fsathi ingin juga duduk di dekat jendela karena juf disekolah berpesan seperti itu agar bisa melihat ke bawah dan awan. Tapi karena Nurul sudah disana duluan jadi tidak mau pindah. Si pesawat kami dapat kado…wah banyak sekali isinya ada boneka, tas, crayon dan buku. Tapi karena perjalanannya lama kami bosan juga apalagi harus tidur dibangku. Ahmad yang diberi box yang ditempel di dinding tidak mau tidur disana karena memang biasanya Ahmad tidur disamping umi. Sedikit rewel Ahmad saat itu maunya di gendong sambil jalan-jalan.

Kami transit dulu di Singapore selama dua jam kemudian kami terbang lagi ke Jakarta wah..kami dapat kado lagi jadi banyak deh boneka kami. Di bandara Jakarta kami di jemput andung, ungku, nenek, kakek, om pian kel. Dan hanny anaknya ibu teti. Duh..panasnya Jakarta, Ahmad langsung di bukain bajunya. Indonesia…We are coming.

Sunday, March 19, 2006

Adik Ahmad

Masya Allah tidak terasa ade Ahmad sudah 2,5 bulan sekarang. Sejak 8 januari 2006, kami menjadi tiga bersaudara. Ade Ahmad adalah yang bungsu saat ini.
Saat itu hari jum'at, kami mengantar umi ke rumah sakit, tapi belum ada tanda-tanda babynya akan keluar. Begitu pula hari sabtu kami kembali ke RS tapi umi tetap pulang bersama kami padahal abi sudah bawa tas berisi pakaian umi dan baby. Hari minggunya, insyaallah babynya akan ke luar.
Sampai dirumah sakit, umi disuruh tidur dan disuntik dan diberi cairan infus rupanya umi harus diransang supaya sakit/kontraksi. Awalnya kami berada di RS tapi kemudian ada tante Uyung yang membawa kami ke rumah Novi karena takut akan menganggu umi. Cukup lama kami menunggu berita dari abi. Alhamdulillah saat kami berada dirumah tante pongky dan om Itob ada kabar gembira dari abi bahwa ade kami telah lahir dan karena laki-laki diberi nama Ahmad Muzaki Imanullah, untuk nama perempuan abi juga sudah mempersiapkan. Alhamdulillah kembali doa kami dikabulkan Allah, ade Ahmad lahir sehat dan selamat. Hanya saja karena cairan ketuban umi sudah keluar sebelum waktunya, umi dan ade Ahmad belum boleh pulang dan harus menginap dua malam di RS.
Hari Selasa setelah shalat Idul Adha di Mesjid kami dapat telpon dari umi agar segera ke RS untuk menjemput umi dan ade. Abi tidak tahu sebelumnya kalau ada batas waktu meninggalkan RS sehingga terburu-buru. Nurul dan Fathi juga ikut terburu-buru, begitu taksi datang Fathi cepat-cepat turun sedangkan Nurul ikutan juga. Padahal biasanya kalau turun tangga selalu pegangan umi atau abi, ternyata Nurul terjatuh ditangga jadinya hidung Nurul berdarah, alhamdulillah setelah di bawa kehuisart tidak apa-apa. Sesampai ade ahmad dirumah, ada suster yang membantu umi dan abi untuk merawat ade ahmad karena umi juga masih sakit belum bisa bergerak bebas, namanya Ali. Awalnya Nurul takut-takut tapi kemudian kami berdua senang sama Ali. Kami ikut membereskan rumah ketika umi dan ahmad istirahat.

Thursday, December 22, 2005

Desember bulan penuh kado


DESEMBER BULAN KADO

Bulan ini sangat menyenangkan bagi Fathi dan Nurul barangkali begitu juga dengan anak-anak yang lain. Disekolah ada acara sinterklas jarig dan anak-anak diberi kado. Dirumah juga begitu, karena diajak ke toko mainan untuk membeli sesuatu untuk anak tante nyoman yang tinggal dirumah selama 2 bulan, Fathi dan Nurul juga minta dibelikan mainan dan dibungkus dengan kertas kado.
Begitu pula saat diundang makan ke rumah tante Sarneke di Haren, tidak hanya Fathi dan Nurul yang diberi kadotje tapi umi dan abi juga mendapatkannya. Tante Sarneke adalah teman umi, usia nya sudah lanjut, tidak tahu berapa kalau ditanya tidak pernah menjawab. Walaupun sudah lanjut, dia tetap bersemangat datang ke rumah dengan menyetir mobil sendiri untuk belajar bahasa Indonesia dengan umi dan umi belajar bahasa Belanda dengan dia. Mungkin juga karena kesepian, dan rasa cinta Indonesia (dia lahir di Bandung dengan ortu asli Belanda) dia datang ke rumah. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar negeri dan di Utrecht, juga sudah punya lima cucu.
Tidak seperti tahun sebelumnya, pada kerst kali ini Fathi sudah mulai tertarik dengan cerita-cerita nasrani yang diceritakan gurunya, seperti menulis suatu permintaan di kertas yang di letakkan di sebuah sepatu juga cerita tentang kelahiran nabi Isa. Pelan-pelan umi dan abi mencoba menerangkan yang sebenarnya, mudah-mudahan Fathi lebih menyerap apa yang umi dan abi katakan dibanding yang didengar dari sekolah. Tapi untuk nyanyian, karena memang Fathi dan Nurul senang bernyanyi, nyanyian-nyanyian sinterklas, cristmas, dll selalu disenandungkannya. Mudah-mudahan dengan berjalannya waktu, mereka bisa melupakan lagu-lagu tersebut dan menggantinya dengan lagu yang lain.
Fathi dan Nurul sangat senang menyanyi doa khatam qurán'hanya saja bulan ini lagu nasrani menjadi saingan. Alhamdulillah abi sudah punya camera baru, mudah-mudahan bisa menghiasi blog ini lagi karena ada foto fathi dan Nurul lagi senandung doa khatam Qurán dengan memakai baju muslim yang dibelikan oleh Ayah dan Bundanya Rafdi dan Amira (tante ine dan om Eko).

Saturday, November 12, 2005

Elf November

Hari ini tanggal 11 November, seperti tahun sebelumnya sebelum tanggal ini Fathi disekolah membuat lampion dan disuruh membawa lampu untuk lampionnya. Awalnya umi hanya membelikan untuk Fathi karena umi pikir kalau Nurulkan belum bisa buat lampion jadinya tidak akan disuruh membawa lampunya. Tapi ketika hari senen Nurul sekolah, meneer Ad mengingatkan agar hari kamis saat Nurul sekolah lagi dibawakan lampu untuk lampion. Karena takut kehabisan hari itu juga umi, sehabis mengantar Fathi sekolah siang umi segera membelikan karena ingat tahun lalu, kehabisan ditempat yang murah akhirnya terpaksa membeli ditempat lain dengan harga mahal.

Seperti tahun kemaren Fathi bersama teman-temannya pergi kerumah jompo (oma/opa), hanya saja karena tanggal 11 jatuhnya hari Jumát dimana Fathi dan teman-temannya sekolah hanya satu kali maka pergi berkunjung ke rumah oma/opanya hari kamis. Disana mereka diberi kue, minuman dan permen. Permennya dibawa pulang dan saat akan dimakan, umi lihat ternyata merknya haribo yang mengandung gelatin. Syukurnya Nurul bawa kue wafer jadinya permennya dikasihkan ke umi dan Fathi makan wafer yang di bawa Nurul.

Karena Nurul hari Jumát tidak sekolah maka pulang sekolah Nurul sudah membawa lampion sedangkan Fathi masih ditinggal disekolah. Diperjalanan pilang Fathi cerita kalau Jeuf punya permen banyak dan hari sint marten, anak-anak juga akan punya banyak permen.
Tapi ternyata dugaan fathi keliru dengan perkataan Jeufnya tadi, dia pikir hari ini akan mendapatkan permen dari jeuf seperti tahun lalu. Agak kecewa Fathi tampaknya, jadinya di rumah Fathi meminta permen sama umi.

Rupanya maksud Jeufnya, anak-anak akan banyak permen pada hari ini bila berkeliling dari rumah kerumah. Menjelang sore, banyak anak-anak berkeliaran di jalanan ditemeni orang tuanya. Karena rumah kami di flat tidak ada yang datang, umumnya mereka mendatangi rumah yang bukan flat seperti rumah-rumah didepan. Awalnya Fathi tidak tahu karena hari sudah mulai gelap hanya saja umi memberitahu karena tahun kemaren tidak seramai tahun ini. Setelah diberitahu malah Fathinya ingin ikutan dan minta ditemani. Bagaimana mungkin umi akan menemani, umi belum selesai masak sedangkan abi masih puasa syawal lagi pula gengsi aja kesannya ngetok rumah orang untuk minta permen. Tapi bagi anak-anak seperti Fathi hal itu mungkin mengasikkan juga apalagi akan mendapat permen.

Akhirnya umi minta abi untuk pulang lebih cepat dengan alasan ini adalah yang terakhir kami di Belanda biar Fathi merasakannya untuk pengalaman. Abi menyetujui dan janji sehabis shalat magrib dikantor abi pulang. Supaya bisa langsung pergi, Fathi dan Nurul sudah bersiap-siap dengan jas dan sepatu masing-masing, mereka sudah tidak sabaran lagi sebentar membuka pintu untuk melihat kedatangan abi.

Begitu abi datang, Fathi langsung mengajak abi pergi padahal abinya baru buka sekedarnya. Umi mengingatkan jangan lama-lama dan datangi rumah yang lampunya menyala saja. Cukup lama mereka bepergian hampir satu jam dan pulang-pulang mereka sangat senang karena punya banyak permen tapi lampion Fathi masuk kali karena terlepas dari lampunya sementara angin sangat kencang dan meniupnya ke dalam kali. Umi kaget permen segitu banyak memang berapa rumah yang didatangi tapi ternyata mereka pergi ke winkel padepol dan disana toko-toko membagi-bagikan permen tapi ada juga yang baru memberi kalau anak tersebut sudah menyanyikan lagu elf november atau sint marten.

Karena memegang permen, hari ini Nurul yang agak sulit diberitahu sangat puas makan permen. Syukurnya tidak semua permen yang dia suka jadi tidak dihabisin semua.

Thursday, November 03, 2005

Lebaran

Hari ini umi dan abi sudah tidak puasa lagi karena hari ini adalah hari lebaran. Tadi malam, abi dan umi minta Fathi dan Nurul untuk tidur lebih cepat supaya besoknya bisa dibagunkan dengan mudah karena harus pergi ke mesjid untuk shalat id. Tapi memang udah beberapa malam ini fathi dan Nurul malah tambah aktif disaat mau tidur, jadinya walaupun dengan berbagai cara diupayakan segara tidur malah tidak juga segera tidur. Sehabis shalat abi mengajak untuk takbiran tapi Fathi dan Nurul tidak terlalu antusias mengikuti bahkan lebih asik bermain.

Pagi-pagi tanpa dibangunkan Nurul sudah terbangun, mungkin karena mendengar suara umi dan abi yang berbicara juga abi yang sedang menelpon ke Indonesia tapi Fathi masih belum bangun. Tadi malam sebelum tidur Fathi kepalanya kejedot Hitter sehingga pelipisnya memar kebiruan, mudah-mudahan tidur nyenyaknya bisa sedikit menyembuhkan sakitnya. Mula-mula Fathi dan Nurul yang dimandikan kemudian mereka sarapan dengan lontong yang umi buat, Nurul disuapin sama tante Nyoman yang tinggal dirumah selama dua bulan sedangkan Fathi makan sendiri. Alhamdulillah tahun ini lontong umi makin sukses juga dengan sayur nangka dan opor ayamnya. Kalau Nurul lebih suka kuah dan ayamnya saja, apalagi hari masih pagi biasanya Nurul kalau pagi makannya sedikit bahkan jarang makan nasi/lontong.

Setelah sarapan, umi dan tante Nyoman berangkat duluan karena harus berjalan kaki ke mesjid Selwerd sedangkan Fathiya, Nurul dan Abi berangkat naik sepeda. Sampai di pekarangan mesjid Fathi dan Nurul ikut umi dan tante Nyoman ke belakang mesjid (tempat shalat wanita). Alhamdulillah walaupun dingin tapi hari tidak hujan dan untuk antisipasi jemaah maka di luar disediakan juga tempat untuk shalat. Ketika kami datang hampir semua tempat berisi tapi ternyata masih bisa di samping tante yang datang lebih dahulu. Sebelum shalat dimulai semua orang dihimbau untuk takbir, Nurul ingat kalau abi juga mengajak tadi malam. Ketika shalat Nurul dan Fathi ikut shalat dan tidak rewel walaupun harus bersempit-sempit.
Sehabis shalat dan bersalaman, kembali umi dan tante Nyoman pulang berjalan kaki hanya saja ada Novi teman Fathi yang ikut juga karena nanti jam 10 ada kinder fest. Sebenarnya bisa saja menunggu di mesjid tapi tadi sarapannya baru sedikit dan sehabis shalat perutnya sudah kelaparan. Selesi disuapin tante Nyoman, Fathi, Nurul dan Novi main dan nonton TV, abi yang berjanji akan mengantar ke mesjid masih asik ngobrol dengan om Buyung dan om Eko dimeja makan padahal sudah hampir jam 11. Umi takut anak-anak kecewa karena terlambat datang.

Pulang dari bepergian, masing-masing bawa kado. Wah hebat juga mesjidnya masing-masing anak dapat kado pikir umi, eh..ternyata kadonya dari winkel di paddepol (dibelikan abi). Dari cerita abi, acara dimesjid kurang terkoordinir terlalu banyak anak-anaknya dan kadotje yang disebut-sebut tadi pagi rupanya buat anak-anak yang mengaji di mesjid, sedangkan Fathi dan Novi tidak ikutan. Tapi sebelum masuk kedalam rumah ada pak Ahmad (orang suriname) yang memberi Fathi, Nurul dan Novi uang lebaran, masing-masing dapat 5 euro. Wah rupanya ada juga tradisi ini di suriname.

Sore hari ada acara halal bi halal di hall hanzeschol. Fathi dan Nurul bertemu banyak teman, tanpa lelah Fathi bermain dan kalau haus atau lapar bisa makan apa saja yang tersedia. Saat ini memang berbagai makanan indonesia tersedia, mulai dari cendol, siomay, tekwan dan kue-kue seperti lumpia, risol, lemper dan banyak lagi. Hanya saja Nurul yang belum siap tanpaknya dengan suasana yang ramai dan gedung yang luas, lebih senang duduk dekat umi dan abi.

Monday, October 24, 2005

Berlatih puasa

Seminggu ini Fathi liburan sekolah, hersf vakansi. Tadi pagi saat abi bangun untuk sahur, Fathi ikut terbangun dan bilang tidak bisa tidur lagi sewaktu disuruh untuk tetap tidur. Melihat abi makan maka Fathi ingin ikut makan dan mengatakan akan ikut puasa. Bersama abi, fathi makan sahur. Hari sabtu kemaren Fathi juga mencoba makan sehabis bangun tidur tapi waktu itu waktu imsak sudah lewat dan Fathi mengaku kalau puasa. Hanya saja jam 9.30 ketika Nurul minta wors, Fathi juga ingin dan mengaku kalau sudah lapar. Disuruh untuk menahan sampai jam 10.00 tidak mau dan merengek terus..ya lumayanlah belajar puasa 3 jam.

Begitu juga hari ini, pagi hari Fathi janji akan puasa sampai jam 13.00 tapi jam 9.30 sudah bilang kalau perutnya lapar padahal biasanya makannya juga tidak gampang. Biar dibujuk dan diberi alasan tidak ada makanan yang disukai yang bisa dimakan Fathi tetap ngotot kalau perutnya lapar dan ingin makan sekarang. Jadinya hari ini belajar puasanya 3 jam lagi.

Sakit Perut

Hari itu hari kamis, karena Nurul akan sekolah siangnya maka umi sudah mempersiapkan semua agar Nurul dan Fathi (twe keer naar schol) tidak terlambat. Mulai dari menjemput Fathi pulang dari sekolah, Nurul dan umi cepat-cepat berjalan menuju sekolah Fathi supaya begitu Fathi keluar dari pintu sekolah bisa langsung pulang. Tapi ketika ketemu Fathi, wajahnya meringis seperti menahan sakit. Sambil berjalan umi coba mencari tahu penyebab sakitnya dan daerah yang sakit. Setengah perjalanan menuju rumah, Fathi mulai menangis dan mengatakan sudah tidak bisa jalan lagi. Tapi Nurul yang kebetulan naik buggy tidak mau turun digantikan dengan kakaknya.
Sesampai dirumah, Fathi langsung umi suruh tiduran dan mencoba melihat daerah perut yang sakit (bagian kiri). Terkadang tangisnya berhenti tapi hanya sebentar kemudian menagis keras dengan mengatakan sudah tidak tahan. Tangisan kerasnya itu bikin umi bingung karena tempat yang ditunjuk sakit itu tidak ada tanda-tanda memar tapi memang agak panas. Umi coba suapi Fathi nasi dan memberi teh hangat. Tapi karena tangisnya makin menjadi maka umi telpon abi yang berada di kantor, sambil berdoa mudah-mudahan abi tidak ada janji meeting dengan profesornya. Alhamdulillah abi segera pulang dan melihat Fathi. Awalnya abi agak ragu dan tidak percaya, mungkin ini hanya ulah Fathi untuk mencari perhatian karena memang sedang sakit seperti itu tetap mau pergi sekolah dan mau nonton TV juga bila dilihat (mata awam) yang menyebabkan sakit tidak ada. Hanya saja umi yakin tidak mungkin tangisnya seperti itu kalau hanya untuk mencari perhatian apalagi setelah dikatakan akan dibawa ke dokter, tangisannya tidak berhenti.
Setelah menelpon kesana-kemari, awalnya abi telpon ke huisart tapi tidak diangkat karena sudah tutup untuk buat afsprak terus telpon ke ziekenhuis hanya saja harus ada rekomendasi dari huisart katanya dan akhirnya dapat notel emergency huisart dan disuruh datang.
Maka berangkatlah Fathi dengan digendong abi...awalnya umi usul naik taxi saja tapi untuk menunggu taxi butuh waktu akhirnya diputuskan naik sepeda. Nurul yang sudah disuruh siap-siap untuk sekolah menyangka akan diajak diajak ke dokter seperti control ke tandaart bulan lau. Maka menangislah Nurul dan ngotot tetap ingin pergi dengan abi dan mengantar kakak. Sementara diajak ke sekolah dan disuruh turun dari pangkuan umi tidak mau, duh..gimana kalau ngambek begini..masak harus digendong ke sekolah akhirnya umi putuskan Nurul tidak sekolah karena sudah terlambat kalau dipaksakan berangkat. Lama-lama Nurul tertidur.
Sudah dua jam umi tunggu telpon berdering untuk mendengar kabar dari abi. Bermacam-macam prasangka bermunculan, umi coba shalat untuk menenangkan pikiran dan berdoa agar Fathi dihilangkan rasa sakitnya. Terdengar bunyi telpon dengan agak cemas umi angkat tapi ternyata salah sambung. Waktu umi telpon ke hp abi, abi tidak kunjung telpon balik (rupanya baterainya sudah habis).
Dari cerita abi...di huisart, Fathi tidak berhenti menangis dan tetap harus menunggu tidak dikatagorikan emergency bahkan ada bekas tetangga kami yang kebetulan sedang terapi disana sempat baca jampi2x segala. Awalnya huisartnya hanya melihat dan ngobrol saja dan tidak memeriksa badan Fathi tapi setelah diperiksapun disuruh pulang tanpa hasil apa-apa tapi abi bersikeras pasti ada yang salah karena tangisnya tidak kunjung berhenti akhirnya dirujuk juga ke rumah salkit (AZG).
Dengan taxi sampailh di RS, mulanya abi mau mendudukkan Fathi dikursi dorong tapi ternyata harus pake koin 2 euro dan abi tidak punya akhirnya digendonglah Fathi menuju poli anak, alhamdulillah abi masih kuat walaupun puasa. Dirumah sakit awalnya dokter juga mengatakan tidak ada apa-apa setelah bertanya kejadian di sekolah tapi akhirnya setelah diperiksa anusnya maka terasalah kalau ada kotoran yang keras, maka di masukkanlah cairan dalam dosis yang cukup banyak melalui dubur..tak lama kemudia fathi ingin ke belakang tapi disuruh tunggu beberapa saat supaya celananya tidak kotor maka dipasangi pampers (fathi marah kalau abi ceritain fathi pake pampers). Ternyata inilah yang menyebabkan sakit itu, ada kotoran-kotoran keras yang tidak keluar dan memang setelah semuanya keluar, pulang dari RS Fathi sudah lari-lari dan loncat-loncat.
Begitu pula sampai dirumah, umi yang sudah cemas menuggu geleng-geleng kepala dan tidak percaya melihat perubahan waktu berangkat dan pulang. Ditangga Fathi lari-lari..seperti tidak ada bekas sakit sedikitpun.

Tuesday, October 18, 2005

Baju prinses

Umumnya anak perempuan senang dengan prinses, baik itu berupa boneka, gambar, stiker juga game. Fathi dan Nurul juga begitu, awalnya Fathi yang suka sekali karena masih kecil Nurul belum mengerti. Tapi setelah bisa bicara dan pandai memilih, Nurullah yang paling ngotot dengan yang berbau prinses. Terutama untuk baju, semua baju terusan (jurk) dan agak panjang disebut baju prinses dan setiap hari Nurul inginnya memakai baju prinses. Ini agak membuat umi kewalahan karena kalau pakai baju prinses terus berarti bajunya nggak diganti-ganti dan kalau sempat diganti kemudian dicuci serta masih basah wah.. susah sekali membujuknya. Akhirnya untuk Nurul dibelikan jurk baru agar bisa diganti-ganti apalagi kalau salah satunya masih basah dan belum disetrika.

Kemaren umi berencana ingin mencarikan baju yang tebal (trui/sweeter) tapi karena memang demam baju prinses saat ditanya Nurul menolak baju tebal tersebut dan memilih jurk yang digantung. Wah..masak bajunya model itu semua lagi pula hari sudah mulai dingin. Yang lebih repot kalau pakai jurk ini saat keluar rumah tidak mau pakai jas karena kalau pakai Jas baju prinsesnya akan tertutup dan Nurul nggak bisa muter-muter bergaya.

Fathi sebenarnya masih suka sama jurk tapi karena sudah agak besar dan bisa diberi pengertian maka ngambeknya hanya sebentar. Hanya saja dia suka protes apalagi kalau Nurul sudah bergaya, muter-muter dengan baju prinsesnya.

Jalan setapak di belakang rumah

Pertengahan oktober ini daun-daun sudah banyak berguguran. Dibelakang rumah yang banyak pohon besar daun-daunnya banyak sekali yang gugur sehingga jalan setapak yang kadang dilalui ditutupi oleh daun-daun kering. Nurul sangat senang lewat jalan itu terutama setelah banyak daun yang berjatuhan, sebelumnya jalannya banyak lubang tapi minggu lalu baru selesai diperbaiki. Sewaktu berlubang, Nurul dan Fathi juga senang lewat sana karena bisa main loncat lubang. Mulai dari berpegangan sampai Nurul berani loncat sendiri, sekarang karena sudah diperbaiki tidak bisa main loncat lubang lagi.

Jalan belakang rumah ini juga punya arti tersendiri bagi Nurul dalam hal belajar berani. Kalau menjemput Fathi dari sekolah dan Nurul tidak mau naik buggynya maka supaya jalannya tidak terlalu capek, umi bawa lewat jalan belakang rumah. Karena banyak pohon besar disepanjang jalan tersebut, kalau ada angin yang bertiup maka menimbulkan bunyi yang menakutkan bagi anak seusia Nurul saat itu ( 2 tahun). Awalnya umi ingin memberi tahu kalau ada angin kencang, pohonnya goyang-goyang dan menimbulkan bunyi uh....sambil menunjuk salah satu pohon yang ternyata yang paling besar. Rupanya Nurul saat itu menangkap kalau pohon yang umi tunjuk itu namanya angin yang bisa menimbulkan suara sehingga setiap akan melewati pohon besar tersebut Nurul minta gendong seperti takut sambil bilang angin.

Tapi lama-lama setelah diberi pengertian bahwa itu namanya pohon dan tidak beda dengan pohon yang lain juga sambil main loncat lubang, Nurul akhirnya berani jalan sendiri apalagi sekarang sambil menginjak daun-daun kering yang berguguran menjadi permainan tersendiri bagi Nurul.